Review Jujur Film Tentang Con Mum. Con Mum (2025) tetap jadi salah satu dokumenter true-crime paling menyedihkan dan mengguncang di Netflix menjelang akhir tahun ini. Disutradarai Nick Green, film berdurasi sekitar 88 menit ini rilis 25 Maret 2025 dan langsung menduduki posisi tinggi di chart global. Ceritanya mengikuti Graham Hornigold, chef pastry terkenal asal Inggris dan co-founder Longboys Doughnuts, yang pada 2020 menerima pesan dari seorang wanita bernama Dionne Marie Hanna yang mengaku sebagai ibu biologisnya yang hilang selama 45 tahun. Apa yang dimulai sebagai reuni emosional berubah jadi mimpi buruk finansial dan emosional, dengan Graham kehilangan hampir £300.000 karena manipulasi Dionne. Dokumenter ini bukan sekadar cerita penipuan biasa—ia mengeksplorasi kerentanan manusia, trauma masa kecil, dan betapa mudahnya harapan palsu dieksploitasi, membuatnya terasa sangat pribadi dan heartbreaking.
Sinopsis dan Perkembangan Cerita Tentang Con Mum
Semuanya bermula saat pandemi COVID membatasi akses Dionne ke korban-korban kaya di hotel bintang lima. Ia kemudian menghubungi Graham, yang dibesarkan tanpa ibu setelah lahir di pangkalan militer Jerman dan tumbuh di panti asuhan. Dionne mengaku sebagai anak haram Sultan Brunei, hidup mewah dengan koneksi kerajaan, dan butuh bantuan sementara karena dana terkunci. Graham, yang selalu merindukan keluarga, langsung percaya—bahkan menyerahkan uang, kartu kredit, dan biaya hotel mewah hingga £25.000. Pasangannya, Heather Kaniuk, mulai curiga dan mengungkap riwayat penipuan Dionne: berbagai alias, vonis kriminal sejak 1982, serta kasus-kasus serupa. Konflik memuncak saat Graham terpecah antara “ibu” yang baru ditemukan dan keluarga barunya yang sedang menanti kelahiran anak. Film ini membangun ketegangan perlahan, menampilkan rekaman pertemuan pertama yang emosional, wawancara Graham dan Heather, serta bukti-bukti yang semakin menyakitkan. Twist akhirnya bukan sekadar konfirmasi penipuan—ia jauh lebih gelap dan tragis, membuat penonton merasa hancur sekaligus terpukau oleh kompleksitasnya.
Kekuatan Dokumenter dan Dampak Emosional
Yang membuat Con Mum beda dari scam-doc lain adalah kedalaman emosionalnya. Graham tampil sebagai orang baik hati yang terluka oleh masa kecil tanpa keluarga—ia ingin percaya begitu kuat hingga mengabaikan red flag besar. Dionne digambarkan sebagai manipulator dingin yang tak menyesal, hidup mewah dari hasil tipuan selama puluhan tahun. Nick Green menyajikannya tanpa sensasionalisme berlebih: menggunakan rekaman asli, wawancara intim, dan sedikit reenactment yang efektif. Musik dan editing membangun rasa tidak nyaman secara halus, membuat penonton ikut merasakan keputusasaan Graham. Banyak yang bilang ini salah satu dokumenter paling menyedihkan tahun ini—bukan karena dramatis, tapi karena terasa sangat nyata dan relatable. Dampaknya nyata: setelah rilis, Dionne ditangkap di Singapura April 2025 atas laporan korban baru yang terinspirasi review film ini, menunjukkan kekuatan dokumenter dalam mendorong keadilan.
Kelebihan dan Kekurangan Film Con Mum
Kelebihan utama adalah bagaimana film ini menghindari formula true-crime klise—tak ada narasi heroik berlebih atau kesimpulan bahagia paksa. Ia fokus pada psikologi korban dan pelaku, menunjukkan betapa trauma bisa membuat orang rentan terhadap manipulasi. Durasi singkat membuatnya padat dan intens, tanpa terasa bertele-tele. Kritikus memuji pendekatan jujur yang meninggalkan penonton dengan rasa hampa dan refleksi mendalam soal kepercayaan serta keluarga. Namun, beberapa merasa film terlalu menyedihkan tanpa sedikit pun uplift—akhirnya terasa seperti “mouldy cherry on a soggy cake” karena tak ada redemption besar. Bagi sebagian, Graham juga jadi objek kritik karena kelalaiannya terhadap pasangan dan anak baru lahir. Rating Rotten Tomatoes positif secara keseluruhan, dengan pujian atas keefektifan emosional meski membuat penonton lelah dengan realitas dunia yang kejam.
Kesimpulan
Con Mum adalah dokumenter true-crime yang sulit dilupakan—menghancurkan hati sekaligus mengajarkan pelajaran berharga tentang kerentanan emosional dan bahaya harapan palsu. Meski mengikuti pola scam-doc standar, kekuatannya ada pada cerita pribadi yang autentik, twist menyakitkan, dan dampak nyata di dunia luar. Ini bukan tontonan ringan untuk malam santai, tapi yang akan membuatmu berpikir panjang tentang keluarga, kepercayaan, dan batas pengorbanan. Bagi penggemar genre ini atau siapa saja yang penasaran soal psikologi penipuan, film ini wajib ditonton—siapkan tisu dan siap-siap merasa hampa setelahnya. Netflix kembali berhasil menghadirkan cerita yang tak hanya menghibur, tapi juga mengguncang realitas. Selamat menonton, dan ingat: darah tak selalu lebih kental dari air!