Review Film The Beauty Inside. Film The Beauty Inside yang dirilis pada 2015 lalu, kembali menjadi perbincangan hangat di akhir 2025 ini sebagai salah satu romansa fantasi Korea paling unik dan menyentuh tentang cinta yang melihat melampaui penampilan fisik. Disutradarai oleh Baik, cerita ini diadaptasi dari drama pendek Amerika, mengisahkan Woo-jin, seorang desainer furnitur yang setiap hari bangun dengan wajah dan tubuh berbeda. Dibintangi Han Hyo-joo sebagai pemeran utama wanita, dengan lebih dari 20 aktor terkenal bergantian memerankan Woo-jin, film ini sukses besar saat tayang berkat konsep segar dan eksekusi emosionalnya. Kini, banyak penonton baru menemukannya melalui tayangan digital, membuatnya terasa relevan lagi dengan tema identitas, penerimaan diri, dan cinta sejati di era yang semakin fokus pada penampilan luar. BERITA BOLA
Sinopsis dan Konsep Fantasi: Review Film The Beauty Inside
The Beauty Inside berpusat pada Woo-jin yang sejak usia 18 tahun mengalami fenomena misterius: setiap pagi ia berubah menjadi orang berbeda, mulai dari pria tua, wanita, hingga orang asing dari berbagai negara. Ia menyembunyikan kondisinya dari dunia, hanya berinteraksi dengan ibunya dan dua sahabat dekat. Hidupnya berubah saat jatuh cinta pada Yi-soo, pegawai toko furnitur yang ceria. Woo-jin mendekatinya dalam satu wajah tetap selama beberapa hari, tapi akhirnya harus mengungkap rahasianya.
Konsep perubahan wajah setiap hari menjadi inti cerita, digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana cinta bisa bertahan meski penampilan berubah drastis. Alur cerita ringan di awal dengan humor dari situasi awkward, lalu semakin dalam saat Yi-soo berjuang menerima kenyataan. Durasi sekitar 127 menit terasa pas, pacing seimbang antara fantasi ringan dan drama emosional, dengan ending yang memberikan harapan tanpa terlalu sempurna.
Penampilan Pemain dan Chemistry Unik: Review Film The Beauty Inside
Han Hyo-joo memukau sebagai Yi-soo, menampilkan wanita mandiri yang awalnya jatuh cinta pada satu wajah, tapi perlahan belajar mencintai jiwa Woo-jin melalui interaksi berulang. Ia berhasil menyampaikan kebingungan, rasa takut, dan akhirnya penerimaan dengan ekspresi halus yang tulus. Woo-jin diperankan oleh banyak aktor ternama seperti Lee Beom-soo, Park Seo-joon, Kim Sang-ho, hingga Ueno Juri sebagai versi wanita, masing-masing membawa nuansa berbeda tapi tetap konsisten sebagai satu karakter.
Chemistry antara Han Hyo-joo dan berbagai versi Woo-jin terasa menakjubkan, terutama karena perubahan aktor justru memperkuat tema bahwa cinta bukan pada fisik. Momen-momen kecil seperti kencan berulang atau obrolan malam menjadi highlight, membuat penonton ikut merasakan perjuangan Yi-soo. Pemain pendukung seperti Lee Dong-wook dan Do Ji-han menambah warna tanpa mencuri fokus.
Visual dan Pesan Mendalam
Sinematografi film ini indah dan kreatif, dengan transisi halus saat Woo-jin berubah di depan cermin, menggunakan efek sederhana tapi efektif untuk menjaga realisme. Setting furnitur dan apartemen Woo-jin digambarkan hangat, kontras dengan dunia luar yang dingin, mencerminkan isolasi karakternya. Penggunaan close-up saat Yi-soo melihat “Woo-jin” yang berbeda berhasil menangkap emosi kompleks tanpa dialog berlebih.
Musik pendukung lembut dan melankolis, mendampingi momen romantis serta sedih dengan pas. Pesan utama tentang mencintai esensi seseorang, bukan penampilan, disampaikan subtil tapi kuat, terasa semakin relevan di zaman media sosial sekarang. Meski ada bagian yang terasa lambat, justru itu yang membuat tema penerimaan diri semakin terasa.
Kesimpulan
The Beauty Inside tetap menjadi romansa fantasi Korea yang inovatif dan heartfelt, berhasil menggabungkan elemen ajaib dengan cerita cinta realistis tanpa terasa gimmick semata. Dengan konsep unik dan akting memukau dari seluruh cast, film ini meninggalkan pesan positif bahwa cinta sejati bisa melihat melampaui apa yang terlihat di luar. Di akhir 2025 ini, sangat direkomendasikan ditonton ulang saat ingin merasakan kisah yang manis tapi bikin merenung tentang identitas dan hubungan. Bagi yang belum pernah, wajib dicoba karena ia membuktikan bahwa beberapa cerita cinta bisa abadi meski wajahnya terus berubah. Setelah satu dekade, film ini masih mampu menyentuh hati dengan cara yang segar dan mendalam.