Review Film Bioskop Tentang I Only Rest in The Storm. Desember 2025 menjadi momen reflektif bagi pecinta film arthouse, saat “I Only Rest in the Storm”—drama Portugal karya Pedro Pinho yang premiere di Cannes Mei lalu—mulai tayang lebih luas di bioskop terbatas dan festival akhir tahun. Film berdurasi 211 menit ini, dibintangi Sérgio Coragem sebagai insinyur lingkungan Portugal yang bertugas di Guinea-Bissau, mengeksplorasi dinamika neo-kolonialisme melalui hubungan rumit dengan dua warga lokal, Diara (Cleo Diára) dan Gui (Jonathan Guilherme). Dengan Cleo Diára memenangkan Best Actress di Un Certain Regard Cannes, review film ini langsung jadi pembicaraan karena pendekatan berani terhadap isu paternalisme Barat dan identitas di Afrika Barat. Di akhir tahun, “I Only Rest in the Storm” tawarkan tontonan mendalam yang provokatif, cocok bagi yang suka drama panjang ala Claire Denis tapi dengan sentuhan lebih hangat dan manusiawi.
Sinopsis dan Tema Film I Only Rest in The Storm Post-Kolonial yang Kompleks
Cerita ikuti Sérgio, insinyur lingkungan dari Portugal yang tiba di Guinea-Bissau untuk evaluasi dampak proyek jalan raya besar. Di tengah panas menyengat dan isolasi, ia terlibat hubungan intim tapi tak seimbang dengan Diara—pemilik bar yang tangguh—dan Gui, ekspat Brasil gender-fluid yang karismatik. Film ini bangun melalui percakapan panjang dan momen intim, ungkap ketegangan antara niat baik Sérgio sebagai “penyelamat” Barat dengan realita korupsi, eksploitasi, dan warisan kolonialisme Portugal di Afrika.
Pinho tak beri jawaban mudah: Sérgio sering terjebak antara idealisme dan ketidakmampuan bertindak, sementara Diara dan Gui wakili resiliensi lokal yang kompleks. Ada elemen seksual fluid, pesta malam, dan monolog tajam tentang rasisme serta kapitalisme—semua disajikan dengan gaya loose dan improvisatif, bikin film terasa hidup meski panjang. Ending terbuka tinggalkan penonton mikir tentang posisi diri di dunia global.
Kekuatan Performa dan Atmosfer yang Memikat
Performa jadi highlight: Sérgio Coragem gambarkan Sérgio sebagai pria baik tapi naif dengan nuansa rentan yang relatable, sementara Cleo Diára—pemenang Cannes—curi perhatian sebagai Diara yang kuat dan tak kenal kompromi. Jonathan Guilherme tambah lapisan karisma pada Gui, ciptakan trio dinamis yang chemistry-nya alami. Pinho biarkan aktor improvisasi, hasilkan dialog hangat dan manusiawi yang jarang di film sejenis.
Visualnya memukau: panas Guinea-Bissau terasa nyata melalui shot panjang, pesta malam berenergi, dan lanskap gurun-hutan yang kontras dengan kemewahan ekspat. Musik dan ritme lambat bangun ketegangan erotis serta intelektual, bikin film terasa seperti pengalaman imersif—meski butuh kesabaran untuk 3,5 jam durasinya.
Penerimaan dan Relevansi Kontemporer Film I Only Rest in The Storm
Respons campur tapi antusias: sekitar 78% positif di aggregator, puji sebagai kritik cerdas neo-kolonialisme dan NGO hypocrisy, dengan vibe alluring tapi brutal. Kritik sering soal panjang yang melelahkan dan pacing lambat, tapi banyak yang anggap itu sengaja untuk mirror ketidaknyamanan tema. Di 2025, saat isu bantuan internasional dan identitas global lagi hangat, film ini provokasi diskusi—terutama di festival atau bioskop arthouse.
Bagi yang suka drama panjang dengan substansi, ini gem tersembunyi; tapi bukan untuk yang cari hiburan cepat.
Kesimpulan
“I Only Rest in the Storm” adalah drama ambisius yang berani hadapi isu post-kolonial dengan kejujuran hangat, didukung performa kuat dan atmosfer memikat. Meski durasi panjang dan pacing lambat jadi tantangan, film ini tawarkan pengalaman mendalam yang tinggalkan jejak—bukti Pedro Pinho mampu ciptakan karya provokatif tapi manusiawi. Di Desember 2025, saat cari tontonan reflektif akhir tahun, ini pilihan tepat bagi pecinta cinema serius. Cari di bioskop terdekat atau festival—dan siap untuk mikir ulang tentang “niat baik” di dunia kita.