Review Film London Love Story

Review Film London Love Story. Film London Love Story yang dirilis pada 2016 kembali ramai dibicarakan di awal 2026. Kisah romansa remaja di kota London ini sering ditayangkan ulang di platform digital, membangkitkan nostalgia bagi penggemar drama cinta segiempat. Diadaptasi dari novel populer karya Tisa TS, film ini sukses besar dengan lebih dari 1,1 juta penonton saat pertama tayang, menjadikannya salah satu romcom Indonesia terlaris tahun itu. Kini, cerita Dave dan Caramel masih digemari, terutama dengan visual eksotis London yang membuat penonton ikut bermimpi tentang cinta di negeri orang. BERITA BASKET

Plot dan Karakter Utama: Review Film London Love Story

Cerita mengikuti Caramel, gadis ceria yang kuliah dan kerja paruh waktu di London untuk menghindari masa lalu. Ia bertemu Dave, mahasiswa populer yang sedang patah hati. Di sisi lain, Dave menyelamatkan Adelle yang mencoba bunuh diri, sementara Bima diam-diam mencintai Caramel selama setahun. Takdir mempertemukan keempatnya, memicu konflik cinta, kesalahpahaman, dan kejutan tak terduga.

Dimas Anggara memerankan Dave dengan karisma cool tapi rapuh, Michelle Ziudith sebagai Caramel tampil energik dan optimis. Adilla Fitri sebagai Adelle membawa nuansa dramatis, sementara Dion Wiyoko sebagai Bima setia dan pendiam. Chemistry antara Dave dan Caramel terasa manis, didukung humor ringan dari interaksi segiempat yang rumit.

Elemen Visual dan Romantis: Review Film London Love Story

London Love Story menonjol dengan latar London yang autentik, dari jembatan Thames hingga universitas bergengsi, memberikan nuansa eksotis dan mimpi bagi penonton Indonesia. Romansa di sini klise tapi menghibur: dari pertemuan tak sengaja hingga pengorbanan kecil. Adegan manis seperti pendekatan Dave ke Caramel terasa polos, diperkuat soundtrack catchy yang mudah diingat.

Disutradarai Asep Kusdinar, film berdurasi 90 menit ini punya tempo cepat dengan banyak kebetulan plot. Elemen visual menjadi daya tarik utama, membuat cerita terasa seperti escapism romantis bagi remaja yang ingin merasakan hidup mewah di luar negeri.

Kelebihan dan Kritik

Film ini dipuji karena visual London yang indah, performa aktor muda yang segar, serta kesuksesan box office yang melebihi ekspektasi. Banyak penonton terhibur dengan drama cinta segiempat yang bikin baper, plus pesan ringan tentang takdir dan membuka hati baru.

Di sisi lain, kritik menyebut plot penuh kebetulan dan klise, dialog kadang konyol, serta pendalaman karakter kurang karena tempo buru-buru. Beberapa adegan terasa dipaksakan demi visual, membuat cerita agak dangkal bagi yang mencari drama mendalam. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi kesan sebagai hiburan ringan.

Kesimpulan

London Love Story tetap jadi favorit romansa remaja Indonesia yang penuh mimpi di awal 2026 ini. Kisah Dave, Caramel, dan teman-temannya mengingatkan bahwa cinta sering datang dari pertemuan tak terduga, meski diwarnai drama. Dengan visual memikat dan chemistry aktor yang pas, film ini layak ditonton ulang untuk nostalgia atau escapism manis. Secara keseluruhan, ini adalah romcom klasik yang berhasil menjual fantasi London dengan cara menghibur, cocok bagi yang suka cerita cinta polos dan eksotis.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *