Review Jujur Film Berjudul Like a Dragon: Yakuza. Like a Dragon: Yakuza (2024) jadi adaptasi live-action paling ambisius dari franchise game Ryu Ga Gotoku, tayang eksklusif di Prime Video sejak 24 Oktober 2024 sebagai limited series 8 episode. Disutradarai Masaharu Takeuchi dan Masayuki Suzuki, seri Jepang ini berlatar akhir 1970-an hingga awal 1980-an di Kamurocho (rekreasi sempurna Shinjuku Kabukicho), fokus origin story Kazuma Kiryu (Ryoma Takeuchi) dan sahabatnya Akira Nishikiyama (Timothy Lyons). Dengan budget besar, produksi Amazon MGM Studios, dan dukungan Sega, seri ini campur crime drama, yakuza intrigue, serta sentuhan emosional—bukan sekadar fangservice, tapi cerita mandiri yang hormati esensi game. Di akhir 2025, meski belum ada konfirmasi season 2, seri ini tetap dibicarakan karena visual memukau dan kontroversi di kalangan fans.
Sinopsis Film Like a Dragon: Yakuza dan Setting Kamurocho yang Hidup
Seri ini ambil timeline prequel: Kiryu muda bergabung Dojima Family, hadapi konflik internal yakuza, pengkhianatan, dan dilema moral soal kesetiaan vs keadilan. Cerita ikuti Kiryu dari pemuda polos jadi legenda, paralel dengan Nishiki yang ambisius tapi tragis, plus elemen baru seperti subplot keluarga dan rivalitas unik. Berbeda dari game Yakuza 0/Kiwami yang penuh sidequest absurd, ini lebih straight crime saga ala Scorsese—fokus intrik, kekerasan realistis, dan nuansa era bubble economy Jepang. review film Setting Kamurocho jadi bintang: neon lights, hostess club, ramen stall, dan karaoke bar direka ulang detail, bikin Tokyo 1970-an terasa autentik dan immersive. Pacing episode awal lambat bangun dunia, tapi klimaks episode akhir meledak dengan konfrontasi emosional yang bikin merinding.
Performa Pemeran dan Produksi Epik
Ryoma Takeuchi sebagai Kiryu mencuri hati total—ia punya aura tenang tapi eksplosif, mirip Kiryu game tapi lebih nuanced dengan backstory trauma. Timothy Lyons sebagai Nishiki solid, bawa chemistry bromance yang hangat sekaligus tragis. Pendukung seperti Kento Kaku (kenka master), Yuki Izawa (hostess), dan veteran yakuza actor tambah kedalaman. Produksi kelas atas: sinematografi tangkap hiruk-pikuk Kamurocho malam hari, fight choreography brutal tapi grounded (bukan over-the-top game), soundtrack retro J-pop dan enka pas era. Dialog Jepang asli bikin autentik, meski subtitle Inggris mulus. Takeuchi bahkan latihan karate sungguhan, bikin adegan action terasa nyata dan intens.
Kelebihan dan Kekurangan Film Like a Dragon: Yakuza
Kelebihan terbesar adalah world-building dan vibe yakuza: seri ini sukses ciptakan Kamurocho yang hidup, dengan detail kecil seperti iklan pachinko dan budaya hostess yang bikin fans nostalgia. Acting kuat, terutama duo utama, dan cerita emosionalnya menyentuh—banyak yang bilang lebih baik dari adaptasi live-action Jepang lain. Rating Metacritic 70-an dan Rotten Tomatoes critics 78% puji cinematography serta kesetiaan spirit game tanpa copy-paste. Kekurangannya: bagi fans hardcore, deviating plot (karakter baru, timeline tweak) terasa mengkhianati lore, fight scenes kurang frekuensi dan spectacle dibanding game, pacing episode tengah drag dengan dialog panjang. Beberapa bilang terlalu serius, kurang humor absurd khas Yakuza—hasilnya mixed di komunitas Reddit/ResetEra. Durasi 8 episode terasa pas tapi ending cliffhanger bikin frustrasi tanpa season 2.
Kesimpulan
Like a Dragon: Yakuza adalah adaptasi sukses yang hormati akar game sambil jadi crime drama mandiri—visual memukau, acting solid, dan Kamurocho yang bikin ketagihan. Meski bukan sempurna (deviasi plot dan kurang action bagi fans), seri ini bukti live-action Yakuza bisa kerja kalau fokus cerita dewasa. Di akhir 2025, ini tetap rekomendasi wajib bagi penggemar yakuza genre atau yang suka Gomorrah/Sopranos versi Jepang. Ryoma Takeuchi layak jadi Kiryu ikonik selamanya. Streaming sekarang di Prime—kalau suka origin story gelap dengan hati emosional, kamu bakal hooked. Semoga season 2 datang cepat!