Review Film Mariposa: Cinta seperti Kupu-kupu Mariposa. Mariposa (2020), film romansa remaja garapan Fajar Bustomi yang tayang 13 Februari 2020, masih menjadi salah satu karya Indonesia paling banyak ditonton ulang dan dibicarakan hingga awal 2026. Diadaptasi dari novel best-seller karya Luluk HF, film ini berhasil menarik lebih dari 2,3 juta penonton di bioskop dan kini rutin menjadi tontonan nostalgia di platform streaming. Dibintangi Angga Yunanda sebagai Acha dan Adhisty Zara sebagai Butterfly (Gita), cerita mengisahkan perjalanan cinta remaja yang manis namun penuh lika-liku di masa SMA. Judul “Mariposa” (kupu-kupu dalam bahasa Spanyol) menjadi metafora utama: cinta yang indah, rapuh, dan hanya bertahan sebentar seperti umur kupu-kupu. Di balik nuansa romansa muda, film ini sebenarnya adalah potret jujur tentang cinta pertama, persahabatan, dan proses belajar melepaskan ketika cinta tidak berbalas. REVIEW KOMIK
Kisah Cinta Remaja yang Manis dan Realistis: Review Film Mariposa: Cinta seperti Kupu-kupu Mariposa
Cerita berpusat pada Gita (Zara), siswi SMA yang ceria dan penuh mimpi, yang diam-diam menyukai Acha (Angga), cowok populer di sekolah yang tampan, pintar, dan ramah. Mereka bertemu secara tidak sengaja melalui kegiatan sekolah dan perlahan membangun kedekatan melalui obrolan kecil, saling bercanda, dan momen-momen manis seperti jalan bareng pulang sekolah. Gita memberi nama “Mariposa” untuk perasaannya terhadap Acha—cinta yang indah tapi rapuh, seperti kupu-kupu yang hanya hidup beberapa minggu.
Konflik muncul ketika Acha mulai dekat dengan gadis lain, membuat Gita harus menghadapi kenyataan bahwa perasaannya tidak berbalas. Persahabatan Gita dengan sahabat-sahabatnya—terutama Dila (Ashira Zamita) dan teman-teman cewek lainnya—menjadi penopang emosional sepanjang cerita. Mereka saling menguatkan, bertengkar, lalu berdamai seperti sahabat remaja pada umumnya. Film ini tidak mengandalkan drama berlebihan atau konflik berat; justru kekuatannya ada pada detail kecil yang relatable: chat malam hari, tatapan malu-malu di kelas, dan perasaan deg-degan saat berpapasan di koridor.
Karakter dan Emosi yang Kuat: Review Film Mariposa: Cinta seperti Kupu-kupu Mariposa
Angga Yunanda sebagai Acha memberikan penampilan yang sangat natural—cowok idaman sekolah yang baik hati tapi tidak peka terhadap perasaan orang lain. Zara JKT48 sebagai Gita berhasil menampilkan rasa malu, harapan, dan kekecewaan remaja dengan begitu tulus hingga penonton merasa ikut jatuh cinta dan patah hati bersamanya. Chemistry keduanya terasa hangat dan autentik, tidak berlebihan seperti drama remaja pada umumnya.
Karakter pendukung seperti Dila, teman cowok Gita yang lucu, dan guru BK yang bijaksana menambah warna cerita. Emosi film ini sangat kuat karena tidak hanya mengandalkan romansa, melainkan juga persahabatan, rasa takut gagal, dan proses menerima kenyataan bahwa cinta pertama sering kali tidak berakhir seperti dongeng.
Makna Lebih Dalam: Cinta seperti Kupu-kupu
Di balik kesan film remaja manis, Mariposa sebenarnya bicara tentang sifat cinta pertama yang seperti kupu-kupu: indah, rapuh, dan hanya bertahan sebentar. Gita belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus dimiliki—kadang melepaskan adalah bentuk cinta yang lebih besar. Acha belajar bahwa kebaikan kecil bisa berarti sangat banyak bagi orang lain. Film ini juga menyentil tema bahwa masa SMA adalah waktu di mana kita mulai mengenal diri sendiri melalui orang lain. Banyak penonton—terutama generasi yang pernah merasakan cinta pertama—merasa film ini seperti pengingat: cinta SMA sering kali lebih tentang proses belajar mencintai diri sendiri daripada akhir bahagia bersama orang lain. Makna terdalamnya adalah bahwa “jalan yang jauh” dalam cinta remaja sebenarnya adalah perjalanan menemukan diri sendiri, dan “jangan lupa pulang” adalah pengingat untuk tetap setia pada nilai dan orang-orang yang benar-benar penting.
Kesimpulan
Mariposa adalah film yang langka: manis sekaligus sangat relatable, ringan tapi penuh kedalaman, dan timeless tanpa terasa kekanak-kanakan. Kekuatan utamanya terletak pada potret cinta SMA yang jujur, penampilan Angga Yunanda dan Zara JKT48 yang autentik, serta pesan bahwa cinta pertama sering kali lebih tentang pelajaran hidup daripada akhir bahagia. Film ini berhasil menjadi cermin bagi jutaan penonton yang pernah merasakan deg-degan melihat crush di koridor sekolah atau menulis catatan rahasia. Di tengah banjir film remaja yang berlebihan dramatis, Mariposa menawarkan kejujuran yang menyegarkan. Jika kamu pernah merasakan cinta masa sekolah atau sedang bernostalgia, film ini adalah tontonan yang wajib—membuat penonton tersenyum sambil merasa terharu. Mariposa bukan sekadar film romansa remaja; ia adalah surat cinta kepada masa-masa indah yang pernah kita lalui. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling indah dari sebuah film.