Review Film The Brutalist: Adrien Brody Masterpiece Baru

Review Film The Brutalist: Adrien Brody Masterpiece Baru. The Brutalist karya Brady Corbet yang tayang sejak akhir 2024 masih menjadi salah satu film paling dibicarakan di awal 2026. Drama epik berdurasi 215 menit ini mengikuti perjalanan László Tóth (Adrien Brody), seorang arsitek Yahudi-Hungaria yang selamat dari Holocaust dan berjuang membangun kembali hidupnya di Amerika pasca-Perang Dunia II. Dengan sinematografi 70mm oleh Lol Crawley, skor musik Daniel Blumberg yang megah, dan performa Adrien Brody yang disebut-sebut sebagai comeback terbesarnya, film ini meraup pujian luas setelah tayang perdana di festival-festival besar. Box office global sudah mencapai lebih dari US$380 juta hingga Januari 2026, dengan rating Rotten Tomatoes 91% dari kritikus dan 87% dari penonton. Banyak yang menyebutnya sebagai masterpiece baru bagi Brody dan salah satu film terbaik dekade ini. Pertanyaannya: apakah The Brutalist benar-benar masterpiece yang layak disebut demikian, atau hanya drama panjang yang terlalu ambisius? BERITA TERKINI

Visual Epik dan Sinematografi yang Memukau di Film The Brutalist: Review Film The Brutalist: Adrien Brody Masterpiece Baru

The Brutalist difilmkan dengan format VistaVision dan 70mm, memberikan skala visual yang jarang terlihat di era digital. Setiap frame terasa seperti lukisan raksasa—dari rekonstruksi Eropa pasca-perang yang hancur hingga lanskap Pennsylvania yang luas dan dingin. Pencahayaan natural dan penggunaan lensa anamorfik menciptakan kedalaman luar biasa, membuat penonton merasa benar-benar berada di dalam dunia László. Adegan-adegan pembangunan gereja besar di akhir film menjadi puncak visual: kamera bergerak lambat mengelilingi struktur beton brutalist, disertai skor Daniel Blumberg yang membahana seperti simfoni modern. Desain produksi sangat teliti—kostum periode, arsitektur brutalist yang autentik, dan detail kecil seperti rokok, mobil klasik, hingga puing-puing perang—semuanya terasa hidup. Secara teknis, The Brutalist adalah salah satu film paling indah tahun 2025.

Performa Adrien Brody dan Ensemble Cast: Review Film The Brutalist: Adrien Brody Masterpiece Baru

Adrien Brody memberikan penampilan yang paling kuat dalam satu dekade terakhir sebagai László Tóth. Ia berhasil membawa karakter yang kompleks: seorang genius arsitektur yang penuh ambisi tapi juga trauma Holocaust yang tak pernah hilang. Brody menunjukkan transformasi fisik dan emosional yang luar biasa—dari pria yang patah hati di Eropa hingga arsitek ambisius di Amerika yang rela mengorbankan segalanya demi visi. Tatapan mata, gerakan tubuh, dan cara bicaranya yang pelan tapi penuh beban membuat penonton ikut merasakan penderitaan dan kegigihannya. Felicity Jones sebagai istrinya Erzsébet dan Guy Pearce sebagai Harrison Lee Van Buren (patron kaya yang manipulatif) juga tampil sangat kuat. Pearce khususnya mencuri perhatian sebagai antagonis yang halus tapi sangat berbahaya. Ensemble cast terasa sangat solid—setiap karakter punya bobot dan tujuan, tidak ada yang terasa sekadar pendukung.

Kelemahan Pacing dan Panjang Durasi

Durasi 215 menit menjadi tantangan terbesar film ini. Babak tengah terasa sangat lambat karena terlalu banyak fokus pada proses pembangunan gereja dan konflik internal László. Beberapa penonton merasa cerita bisa dipotong 30–40 menit tanpa kehilangan esensi. Ada juga kritik bahwa narasi terlalu linier dan kurang punya twist besar—semua konflik terasa predictable bagi yang sudah paham tema Holocaust dan imigran. Dibandingkan film-film panjang seperti The Irishman atau Oppenheimer, The Brutalist terasa lebih “berat” karena minim humor dan momen ringan. Bagi penonton yang tidak sabar, durasi ini bisa terasa menyiksa. Namun bagi yang menikmati slow-burn dan karakter study, justru itulah kekuatannya.

Kesimpulan

The Brutalist adalah masterpiece baru yang berhasil jadi salah satu film paling megah dan emosional tahun 2025. Adrien Brody memberikan penampilan terbaiknya sebagai László Tóth, visual gotik dan sinematografi luar biasa, serta cerita yang berbobot membuat film ini layak ditonton di bioskop besar. Meski durasi 215 menit dan pacing lambat bisa terasa berat bagi sebagian penonton, itu justru bagian dari kekuatannya—sebuah pengalaman sinematik yang mendalam dan tidak tergesa. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka sinema auteur, drama historis, dan performa akting kelas atas. Kalau suka The Zone of Interest, Oppenheimer, atau The Power of the Dog, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan waktu dan konsentrasi, karena film ini tidak ingin ditonton sambil main ponsel. Adrien Brody kembali megah, dan The Brutalist layak disebut salah satu film terbaik dekade ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *