Review Film Body of Lies

Review Film Body of Lies. Film Body of Lies yang dirilis pada 2008 kembali menjadi bahan obrolan di akhir 2025 ini, terutama setelah sering muncul di rekomendasi streaming sebagai salah satu spy thriller underrated dari Ridley Scott. Dibintangi Leonardo DiCaprio sebagai agen lapangan CIA Roger Ferris dan Russell Crowe sebagai atasannya Ed Hoffman, film ini mengikuti operasi kontra-terorisme di Timur Tengah. Dengan durasi sekitar 128 menit, Body of Lies menawarkan pandangan realistis tentang dunia intelijen pasca-9/11, penuh manipulasi, teknologi pengawasan, dan konflik moral. Meski saat rilis resepsi campur aduk dan pendapatan sekitar 115 juta dolar, hingga kini film ini semakin dihargai karena kedalaman temanya yang masih relevan. BERITA BOLA

Alur Cerita dan Konflik Intelijen: Review Film Body of Lies

Body of Lies berpusat pada Roger Ferris yang beroperasi di Yordania untuk buru pemimpin organisasi teroris Al-Saleem. Ia gunakan informan lokal dan rencana rumit untuk buat jebakan, termasuk ciptakan teroris palsu untuk tarik perhatian musuh. Sementara itu, Ed Hoffman pantau dari kantor aman di Amerika, sering campur tangan lewat telepon dan satelit, ciptakan gesekan antara pendekatan lapangan Ferris yang empati dengan metode dingin Hoffman. Alur penuh twist—dari pengkhianatan lokal hingga operasi yang salah arah—dengan klimaks di gurun yang tegang. Cerita adaptasi novel William Pearson ini soroti kompleksitas perang melawan teror, di mana kebenaran sering dikorbankan demi hasil cepat, dan agen lapangan jadi pion dalam permainan besar.

Penampilan Aktor dan Chemistry Utama: Review Film Body of Lies

Leonardo DiCaprio tampil intens sebagai Ferris—lelah fisik dan mental, tapi tetap idealis dalam membangun hubungan dengan orang lokal, termasuk romansa halus dengan perawat Iran yang diperankan Golshifteh Farahani. Russell Crowe, dengan penambahan berat badan dan aksen Amerika biasa, berikan kontras sempurna sebagai Hoffman yang sinis, pragmatis, dan sering abaikan nyawa orang demi misi. Chemistry keduanya jadi jantung film—telepon panjang penuh debat moral dan sarkasme yang tajam. Mark Strong sebagai kepala intelijen Yordania Hani Salam tampil karismatik dan cerdas, curi beberapa adegan dengan manner elegan tapi tegas. Ensemble ini buat karakter terasa manusiawi, bukan sekadar stereotip agen atau teroris.

Gaya Ridley Scott dan Tema Relevan

Ridley Scott bawa visual khasnya: lokasi autentik di Maroko dan Amerika, sinematografi gurun yang luas kontras dengan ruang kontrol gelap penuh monitor. Adegan aksi seperti bom mobil dan penyergapan terasa brutal tapi tidak berlebihan, fokus lebih pada ketegangan psikologis dan pengawasan drone. Musik Marc Streitenfeld tingkatkan nuansa paranoia, sementara editing cepat tangkap chaos operasi real-time. Tema utama—kebohongan demi kebenaran lebih besar, biaya manusiawi perang asimetris, dan gesekan antara intelijen lapangan dengan komando jauh—terasa semakin aktual di era drone dan cyber espionage. Film ini kritik birokrasi CIA tanpa jatuh ke propaganda, tunjukkan kedua sisi sering sama manipulatifnya.

Kesimpulan

Body of Lies tetap jadi spy thriller cerdas yang lebih dalam daripada banyak film sezamannya. Dengan penampilan kuat DiCaprio-Crowe, arahan Ridley Scott yang matang, serta tema moral yang tak lekang waktu, film ini sukses gambarkan dunia intelijen yang abu-abu dan tanpa pahlawan sejati. Meski pacing kadang lambat dan ending agak pahit, ia jauh lebih realistis daripada thriller aksi biasa. Di tengah banyak film mata-mata modern yang over-the-top, karya ini terasa segar sebagai pengingat bahwa perang melawan teror sering menang dengan kebohongan, tapi bayar mahal dengan hilangnya kemanusiaan. Layak ditonton ulang bagi penggemar genre yang suka cerita pintar dengan konflik nyata.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *